Thursday, March 26, 2015

BERAT ATAU RINGAN

Terbayanglah seorang lelaki yang menua dalam darmanya sebagai Rasul…Tak juga hadir sesosok kecil yang akan memanggilnya “Ayah!” …Hingga ketika rambutnya memutih, Ibrahim pun menuai buah kesabaran dan baiksangkanya pada Sang Pencipta. Lahirlah Isma’il, seorang putera yang santun, amat sabar, dan bijaksana.”

“Lalu bayangkanlah ketika sang ayah, yang menyayangi puteranya bagai kakek mengayun cucu itu diperintahkan meninggalkan si bayi merah dan ibunya di padang gersang tak bertanaman…. Berpisah tanpa janji untuk berjumpa lagi. Ringankah itu bagi Ibrahim?”
Jawaban paling jujur adalah “Tidak”

“Dan bayangkan seorang ayah yang tak menyaksikan bagaimana tumbuh kembang puteranya… Sesudah penantian, ada kelahiran sekaligus perpisahan. Sesudah perpisahan ada pertemuan, lalu perintah membunuh sang pengobat rindu. Dengan tangannya sendiri. Ringankah itu bagi Ibrahim?”
Jawaban paling jujur adalah “Tidak”

“Tapi apakah Ibrahim kita tuduh tak ikhlas? Alangkah lancang. Ibrahim ikhlas. Tentu saja ikhlas. Dan dialah salah satu mahluq terikhlas yang pernah tampil di pentas bumi. Keikhlasan memang tak selalu tumbuh dari rasa ringan dalam melaksanakan perintah. Ikhlas bisa saja tumbuh dari kerja-kerja berat mengalahkan nafsu diri. Pengorbanan. Begitu kita menyebutnya.”

“Maka demikianlah, di jalan cinta para pejuang makna ikhlas dibebaskan dari pasungan perasaan. Dari rasa ringan atau berat. Hingga Allah memerintahkan kita untuk berangkat, baik merasa ringan ataupun berat.”
“Berangkatlah baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Q.s. At Taubah [9]:41)

Potongan penjelasan dari Bab Membebaskan Makna Ikhlas dari bukunya Salim A Fillah yang berjudul Jalan Cinta Para Pejuang ini teringat saat saya mendapatkan “surat cinta” minggu kemarin. Saat pertemuan terakhir dari serangkaian pertemuan training bersama anak-anak yatim dhuafa. Saat rasa haru menguak, saat merindukan anak-anak bahkan ketika mereka masih ada dihadapan.


Menjalani seluruh kegiatannya itu bukan tanpa perjuangan, bukan tanpa godaan, bukan yang selalu dengan ringan hati, kadang dengan rasa lelah, kadang dengan rasa malas. Seperti dibenarkan oleh Salim bahwa “Keikhlasan memang tak selalu tumbuh dari rasa ringan,,,Ikhlas bisa saja tumbuh dari kerja-kerja berat”. Maka niat harus tetap diaksikan, maka keberangkatan harus tetap dilakukan.

"To : Th Wisti
Dont Forget always remember Allah...because Allah always in here with we^^,
th Wisti jangan lupain kita semua yah...Kita akan selalu mengingat tth sama th dian....
Karna aku dan teman-teman dari darul inayah sayang sama teh wisti....

Sayang Bangett....^^,
Miisssssss You Th Wisti ^^,

Aku selalu berdoa kepada yang maha kuasa semoga kita bisa bertemu di lain waktu....
and jangan lupa berdoa
allahuma yasir walatuasir
(Ya Allah permudahlah segala urusanku dan jangan Engkau persulit)
Thanks for all

-Yulianti-"

Dengan seluruh kelemahan diri , membaca surat ini bagaikan obat hati, obat lelah, sekaligus penyemangat, dan menurut teman saya surat ini salah satu tanda cinta Allah yang disampaikan melalui anak-anak. Menyadari hasil kerja yang terkadang hanya sekedarnya, yang dilakukan terkadang dengan berat hati, yang dijalani terkadang dengan rasa lelah, untuk mereka ternyata ini lebih dari hanya sekedar, untuk mereka ini menyenangkan.  Semoga semua ini benar-benar menyenangkan untuk kalian.

Semoga segala yang kita lakukan bermanfaat, bernilai pahala. Semoga dalam keterpisahan, kita bisa saling mendoakan kebaikan. Semoga suatu saat kita bisa bertemu lagi. Hingga suatu saat itu adalah surganya Allah.