Saturday, November 10, 2012

BACA DIRI

devianart

Yang menakutkan itu,
Tiap hari bertambah ilmu tapi tak ada yang diamalkan
Perubahan terjadi hanya pada batas kesadaran
Pandai menasehati tapi tak bisa dinasehati
Merendahkan hati padahal untuk meninggikan diri



Yang menyebalkan itu,
Selalu merasa menjadi korban
Menyangka sudah melakukan yang terbaik
Menganggap diri sudah cukup ilmu, untuk berhenti menyerapnya lagi
Bahwa yang lain tak lebih tahu, tak lebih cantik, tak lebih gaya



Karena pesimis dan ego sangat tipis bedanya, saat segala hal terasa telah dimiliki maka tak ada yang lebih baik dari dirinya, dan saat segala hal telah dilakukan dengan baik, maka peringatan atau nasihat sehalus apapun tak dapat didengarnya, hingga saat sesuatu tak sesuai harapan hanya bisa pasrah tinggal menyalahkan orang lain. Bahkan kaca pun tak mampu memperlihatkan pantulannya, membiarkan diri dibaca olehnya, membenarkan segala kekurangan yang ada tapi sekaligus melakukan pembenaran atas kekurangan tersebut. Seluruh perdebatannya hanya menghasilkan kesadaran pembenaran tanpa sebuah perubahan.


Ya, bisa jadi kita, saya, membaca banyak buku, menyerap ilmu dari banyak hal, tapi sebenarnya ilmu itu hanya sampai di kepala dan stop, berhenti disitu, tak menjadikan ilmu tersebut sebagai perubahan diri. Merasa sudah melakukan banyak hal untuk berubah, maka kecewa saat orang lain menganggap kita masih begitu-begitu saja, sehingga pada saat peringatan itu datang kita tak ingin mendengarnya. Banyak hal yang kita sangka, kira, duga sudah kita lakukan dengan baik bahkan yang terbaik, sampai-sampai kita kesal, marah jika tak sesuai harapan. 

Manusia adalah pengacara yang hebat untuk kesalahan diri sendiri. Tapi berubah jadi hakim yang mahsyur untuk kesalahan orang lain. (Diambil dari status Facebook Tere Liye)

Pandai membaca diri dan lingkungan, pandai menyadari, dan pandai memperbaiki diri.

No comments:

Post a Comment

Tanggap menanggapi