Tuesday, May 28, 2013

PERJALANAN RASA - 2


Bismillah...
Yang perlu kita lakukan hanya membuka mata, telinga dan hati, karena sebenarnya jawaban dari setiap keresahan dan kegelisahan itu ada disekitar kita, hanya saja maukah kita menangkapnya? Maukah kita menerimanya? Ataukah hati kita terlalu keras untuk menerima dan bangkit?

Petunjuk : Bacalah tanpa memperhatikan kesinambungan atau keterkaitannya. Ambillah mana yang bermanfaat bagimu. Just enjoy it :)

Cinta bukan tentang "bebas untuk" tetapi "bebas dari".
Kalky, jika cinta adalah kebebasan, bukan berarti kau bebas untuk melakukan apapun pada kekasihmu, tetapi bebas dari ancaman dan ketakutan untuk memilih siapapun yang ingin kau cintai. Bukan bebas untuk menjadi (si)apapun, tetapi bebas dari tekanan dan rasa cemas untuk menjadi (si)apapun. Bukan bebas untuk menindas dan melemahkan, tetapi bebas dari penindasan dan kelemahan. Bukan bebas untuk melakukan hal-hal di luar batas, tetapi bebas dari kegagalan untuk bertanggung jawab pada batas-batas antara dirimu dan kekasihmu. Ya, bukan bebas untuk melampiaskan nafsu dan memenuhi kepentinganmu sendiri, tetapi bebas dari rasa bersalah karena kegagalanmu membanggakan seseorang yang semestinya kau bahagiakan.

Adam, ini bulan kedelapan...minggu ke 36...hari ke-252...sejak kedekatan kita: Ya, aku benar-benar menghitungnya. Aku bahagia ketika kau memberiku kado istimewa di hari ulang tahunku. Aku suka saat kau perhatian padaku. Aku suka saat kau memberikan cokelat atau bunga.
....Tetapi, Adam, perempuan lebih suka diberi kepastian--bukan harapan yang setiap hari menerbitkan keraguan.

Nikmatilah semuanya..... Berbahagialah seperti anak-anak. Waspadalah seperti pertama kali belajar berjalan. Dengarkanlah nyanyian angin. Jadilah air hujan yang membawa kehidupan baru bagi tanah-tanah yang kering. Jadilah matahari yang berani terbit dan siap untuk tenggelam. Jadilah seseorang yang membuat dunia jadi berbeda. Jadilah dirimu sendiri: Kita bukan apa-apa, dan bukan siapa-siapa, sampai kita mewakili pikiran dan perasaan kita sendiri.

Kini, aku sedang tak membayangkannya, aku meyakininya dengan sungguh-sungguh: Tuhan lebih besar daripada laut, lebih luas dari semesta, lebih agung dari segalanya. Maka, tak usah ragu untuk kembali, tak usah merasa bukan siapa-siapa atau merasa terlalu berdosa, teruslah mengalir: Tuhan tak akan menolakmu dan akan selalu menerimamu!

Ah, mengapa kita selalu membuat diri kita merasa bersalah? Mengapa kita cenderung memilih menjadi pemurung? Mengapa kita tak pernah mengucapkan terima kasih pada diri sendiri---atas hal-hal baik, juga hal-hal buruk, yang sudah kita lakukan sejauh ini? Terima kasih telah selalu bertahan, dan telah selalu memutuskan untuk kembali berjalan... Yakinlah, kita telah dan akan selalu baik-baik saja,

Bagiku, ketabahan selalu berkesan murung---atau kadang sok kuat. Misalnya, mengapa rintik rindu harus dirahasiakan dari pohon yang berbunga? Bukankah terlalu banyak rahasia perasaan yang tak menemukan jawabannya---menyakiti dirinya sendiri dan berpura-pura kuat dalam ketabahan yang dibuat-buat? Haruskah selalu berkata pada diri sendiri "kamu harus kuat" kalau kenyataannya kita tidak kuat?......Maka biarkan 'kita yang buruk sekaligus peragu di masa lalu', tinggalkan, tetapi tak perlu dihapus: Sebab sesekali kita perlu menengoknya untuk merayakan kita yang telah berubah di masa kini dan akan menjadi lebih baik di masa depan.
Demi hujan buLan Juni: Berhentilah menjadi seseorang yang menangis di bawah hujan--sambil berharap agar berbagai kesedihan tersamarkan.
Basuhlah kemurungan itu: Move on!


*Lagi-lagi mengutip dari buku Perjalanan Rasa - Fadh Djibran*

Wednesday, May 22, 2013

PERJALANAN RASA - 1

Bismillah...
Petunjuk : Bacalah tanpa memperhatikan kesinambungan atau keterkaitannya. Ambillah mana yang bermanfaat bagimu. Just enjoy it :)

Tak ada yang lebih menyakitkan daripada membuat diri kita sendiri kehilangan harapan, bukan?

Ada saatnya kita harus melepaskan harapan...kadang-kadang harapan adalah pengalih perhatian.

Demikian tololnya kita yang ingin tenggelam dalam kesedihan-kesedihan, kita yang percaya diri berlebihan dengan merasa sanggup untuk sampai pada titik terendah dari sebuah penderitaan--benarkah kita bisa melampaui kesedihan manapun, hingga kosakata bernama derita-luka-lara-nestapa-bahaya tak lagi memberikan akibat apa-apa pada kehidupan kita? Aku menyangsikannya. Sebab Tuhan tak pernah berlebihan, cobaan berat hanya diberikan kepada mereka yang kuat.
Percayalah, kesedihan adalah hadiah--agar pada saatnya kita dihibur dengan cara paling membahagiakan.

Apa yang telah terjadi barangkali memang harus terjadi dan tak pernah ada manusia yang sanggup lolos dari hisapan lubang hitam kesalahan.
Teruslah berjalan: Sebab satu-satunya cara untuk berusaha menjadi manusia yang lebih baik adalah dengan tidak berhenti mencobanya.

Hidup adalah permainan, demikian kita sering diingatkan. Tetapi kita selalu salah sangka: Kita pikir, tentang 'hidup adalah permainan', artinya kita bisa tidak terlalu serius menjalaninya. Padahal, tak ada satu pun permainan yang bisa dimenangkan dengan main-main, kan? Bahkan permainan paling mudah sekalipun, selalu menuntut keseriusan jika kita ingin memenangkannya.

Kau duduk beringsut di sampingku. Malam terus merangkak, jarum jam terus bergerak. Aku memegang tanganmu. "Jangan takut", kataku. Kau mengangguk: Dan aku menemukan keberanianku pada ketakutanmu---pada rasa percayamu bahwa aku akan selalu ada di sampingmu.
Kita selalu menemukan keberanian di atas ketakutan dan kegelisahan orang-orang yang kita sayangi, Adikku. Kita akan menemukan keberanian dari rasa percaya orang-orang yang kita sayangi bahwa kita akan selalu setia melindungi mereka.
"Kakak nggak takut?"
"Takut. Tapi kita bisa berdoa."

Ya, ambisi ibarat doping yang dapat mencegah kita merasa lelah, untuk terus-menerus bekerja, mendaki-dan-mendaki, tetapi membuat kita kehilangan kepekaan, kesadaran dan perhatian. Dengan ambisi, kita mungkin akan sampai ke tempat yang tinggi, atau lebih tinggi. Tetapi "puncak" bukan soal "ketinggian". Ia adalah sebuah titik di mana kita bisa berdiri dengan perasaan tenang, bebas, dan bahagia; Titik yang membuat kita bisa melihat segala hal dari dimensi yang lebih tinggi secara lebih luas, lebih dewasa dan bijaksana.


*Kutipan dari buku Perjalanan Rasa - Fadh Djibran*

Sunday, May 5, 2013

ALHAMDULILLAH...

Bismillah...

Alhamdulillah...sekecil apapun pendapatanmu sekarang, hasil kerja yang selalu memberikan peluh di akhir hari. Karena dengannya kau bisa makan setiap hari, membelikan baju untuk ibumu, dan tentu saja bersedekah, memberikan haknya.
Alhamdulillah...sesederhana apapun tempat bernaungmu sekarang, walaupun bukan milikmu, bahkan mungkin dikejar-kejar oleh pemiliknya. Karena dengannya kau tak perlu memutar otak untuk tempat tidur disetiap malam, kau terlindung dari panasnya siang dan dinginnya malam.
Alhamdulillah...sedikit pun teman yang kau miliki, sahabat setia yang menemani, selama mereka selalu membawamu pada kebaikan. Karena dengannya kau belajar bertoleransi, menghargai, menyayangi dan menjaga.
Alhamdulillah....sejauh apapun tempat yang pernah kau kunjungi, walaupun hanya sekedar kota tetangga atau rumah tetangga. Karena dengannya kau mendapatkan pelajaran dan semakin besarlah keyakinanmu atas kebesaran Sang Pencipta dari semua tempat itu.
Alhamdulillah...sekejap pun tidur yang kau lakukan dan dibangunkannya kembali dirimu. Karena tak ada jaminan dalam tidurmu yang walau sekejap, kau akan membuka mata lagi.

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamiin....Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Fabi ayyi alaa i rabbikumaa tukadzdzibaan....Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?


PLEASE....DONT LEAVE ME

Bismillah...

Pernahkah kamu merasa takut diputuskan oleh pacarmu? takut tiba-tiba dia melirik orang lain dan seketika meninggalkanmu, takut tiba-tiba dia sudah tak tahan lagi dengan sifat burukmu dan tak perdulikan lagi dirimu,   rasa ini lebih dari semua rasa takut itu.

Pernahkah kamu takut kehilangan barang kesayanganmu? kamera yang selalu kau bawa kemanapun kau pergi, menangkap setiap moment untuk kau abadikan, atau smartphone yang rasanya tak bisa kau hidup tanpanya, yang menjadi hal pertama kau lihat ketika kau bangun tidur. Jantungmu berdebar kencang saat kau merasa barang itu hilang dari tempat semestinya, padahal ternyata kau hanya lupa menyimpannya. Rasa ini lebih dari semua rasa takut itu.

Pernahkah kamu takut kehilangan hewan peliharaanmu? kucing kesayangan, kura-kura kesayangan, burung kesayangan, yang setiap hari kau beri makan, kau ajak ngobrol, kau tidur bersamanya di atas kasurmu. Yang saking sayangnya kau kurung mereka karena kau takut mereka kabur meninggalkanmu. Yang kau khawatirkan saat kau tinggalkan ke luar kota. Rasa ini lebih dari semua rasa takut itu.

Pernahkan kamu takut kehilangan teman, sahabat, saudara, orang tuamu? Bahkan dengan hanya membayangkannya pun kau menangis. Rasa ini lebih dari semua rasa takut itu.

Ketakutan yang sangat jika hidup yang dijalani berada dijalan yang salah.
Ketakutan yang sangat atas prasangka terhadap diri telah memiliki segalanya.
Ketakutan atas keangkuhan yang kerap membesarkan kepala.
Semuanya membuat harapan yang sangat agar Allah tak meninggalkan diri ini karena hal itu akan menjadi ketakutan diatas semua ketakutan.