Friday, December 11, 2015

GENERASI HARAPAN

Senang rasanya melihat anak-anak kecil di masjid saat majelis ilmu, yang terpikirkan adalah anak-anak inilah yang terbiasa mendengar tausyiah, terbiasa mendengar bacaan Al-Quran, dan terbiasa mendatangi masjid, Insyaallah kelak menjadi yang mencintai masjid, menjadikan Al-Quran sebagai sebenar-benarnya petunjuk bagi hidupnya, dan semoga menjadi salah satu yang menyampaikan ilmu sebagai ulama.

Harapan memiliki keturunan yang sholeh sholehah, yang akan menjadi penolong agama Allah, yang kelak menjadi sebuah peradaban yang membangkitkan Islam adalah harapan kita semua, yang semoga bukanlah hanya angan-angan tanpa usaha mewujudkannya.

Sejenak kita telisik beberapa tokoh besar dalam Islam, seperti apa kehidupan mereka saat kecil sehingga tumbuh menjadi sosok-sosok yang disyukuri keberadaannya? Lalu bagaimana pendidikan yang mereka terima sampai bisa seperti ini? Siapakah guru-gurunya? Apa saja yang mereka pelajari selama ini? Bagaimana sosok ibu dan ayahnya?

Bagaimana Muhammad Al-Fatih dididik oleh ayahnya yang seorang raja yang memiliki visi penaklukan Konstantinopel yang beliau terima juga dari ayahnya.

Monday, June 22, 2015

KADANG KITA LUPA

Kadang kita lupa kalau kita (pernah) meyakini bahwa ujian selalu menghampiri orang-orang yg berusaha berjalan di jalan Allah.

Seringnya kita lupa kalau kita (pernah) meyakini bahwa Allah tidak pernah memberikan cobaan diluar kemampuan kita untuk menyelesaikannya.

Kerap kali juga kita lupa kalau kita (pernah) meyakini bahwa tujuan dari setiap tindakan di dunia ini semata-mata untuk kehidupan akhirat nanti.

Tak jarang pula kita terpeleset menetapkan niat dalam hati, untuk apa? untuk siapa? kita melakukan segala pekerjaan dan kegiatan sehari-hari

Untuk terus mengingat kembali keyakinan itu bukanlah perjuangan yang ringan, menyadari diri dari setiap kita adalah lemah melambungkan harap kesadaran selanjutnya bahwa hanya dengan pertolongan Allah lah kita bisa terus berjalan di jalan yang Allah ridhoi.

Untuk kamu-kamu yang berada di dalam organisasi atau komunitas atau pergerakan yang bergerak dan berjuang di jalan Allah, saya tahu kita kadang berjalan kadang berlari kadang tersandung dan kadang kita sangat butuh beristirahat untuk mengambil sedikit nafas dengan harapan dapat berlari dengan kencang selanjutnya.

Yakinlah setiap langkah, setiap lompatan bahkan setiap sandungan kita adalah sebuah pengingat untuk kembali yakin dan hanya berharap pada Allah saja.

Yakinlah dalam setiap usaha kita, kita selalu belajar, untuk ikhlas mengharap ridho Allah, untuk sama-sama saling mengingatkan sesama saudara semuslim, untuk selalu bermanfaat bagi sesama.

Yakinlah tak ada yang sia-sia atas apa yg kita lakukan dan tak ada yang kebetulan atas semua kejadian.

Yakinlah Allah Maha mengetahui, Allah Maha Baik, Allah Maha Besar,

Thursday, March 26, 2015

BERAT ATAU RINGAN

Terbayanglah seorang lelaki yang menua dalam darmanya sebagai Rasul…Tak juga hadir sesosok kecil yang akan memanggilnya “Ayah!” …Hingga ketika rambutnya memutih, Ibrahim pun menuai buah kesabaran dan baiksangkanya pada Sang Pencipta. Lahirlah Isma’il, seorang putera yang santun, amat sabar, dan bijaksana.”

“Lalu bayangkanlah ketika sang ayah, yang menyayangi puteranya bagai kakek mengayun cucu itu diperintahkan meninggalkan si bayi merah dan ibunya di padang gersang tak bertanaman…. Berpisah tanpa janji untuk berjumpa lagi. Ringankah itu bagi Ibrahim?”
Jawaban paling jujur adalah “Tidak”

“Dan bayangkan seorang ayah yang tak menyaksikan bagaimana tumbuh kembang puteranya… Sesudah penantian, ada kelahiran sekaligus perpisahan. Sesudah perpisahan ada pertemuan, lalu perintah membunuh sang pengobat rindu. Dengan tangannya sendiri. Ringankah itu bagi Ibrahim?”
Jawaban paling jujur adalah “Tidak”

“Tapi apakah Ibrahim kita tuduh tak ikhlas? Alangkah lancang. Ibrahim ikhlas. Tentu saja ikhlas. Dan dialah salah satu mahluq terikhlas yang pernah tampil di pentas bumi. Keikhlasan memang tak selalu tumbuh dari rasa ringan dalam melaksanakan perintah. Ikhlas bisa saja tumbuh dari kerja-kerja berat mengalahkan nafsu diri. Pengorbanan. Begitu kita menyebutnya.”

“Maka demikianlah, di jalan cinta para pejuang makna ikhlas dibebaskan dari pasungan perasaan. Dari rasa ringan atau berat. Hingga Allah memerintahkan kita untuk berangkat, baik merasa ringan ataupun berat.”
“Berangkatlah baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Q.s. At Taubah [9]:41)

Potongan penjelasan dari Bab Membebaskan Makna Ikhlas dari bukunya Salim A Fillah yang berjudul Jalan Cinta Para Pejuang ini teringat saat saya mendapatkan “surat cinta” minggu kemarin. Saat pertemuan terakhir dari serangkaian pertemuan training bersama anak-anak yatim dhuafa. Saat rasa haru menguak, saat merindukan anak-anak bahkan ketika mereka masih ada dihadapan.


Menjalani seluruh kegiatannya itu bukan tanpa perjuangan, bukan tanpa godaan, bukan yang selalu dengan ringan hati, kadang dengan rasa lelah, kadang dengan rasa malas. Seperti dibenarkan oleh Salim bahwa “Keikhlasan memang tak selalu tumbuh dari rasa ringan,,,Ikhlas bisa saja tumbuh dari kerja-kerja berat”. Maka niat harus tetap diaksikan, maka keberangkatan harus tetap dilakukan.

"To : Th Wisti
Dont Forget always remember Allah...because Allah always in here with we^^,
th Wisti jangan lupain kita semua yah...Kita akan selalu mengingat tth sama th dian....
Karna aku dan teman-teman dari darul inayah sayang sama teh wisti....

Sayang Bangett....^^,
Miisssssss You Th Wisti ^^,

Aku selalu berdoa kepada yang maha kuasa semoga kita bisa bertemu di lain waktu....
and jangan lupa berdoa
allahuma yasir walatuasir
(Ya Allah permudahlah segala urusanku dan jangan Engkau persulit)
Thanks for all

-Yulianti-"

Dengan seluruh kelemahan diri , membaca surat ini bagaikan obat hati, obat lelah, sekaligus penyemangat, dan menurut teman saya surat ini salah satu tanda cinta Allah yang disampaikan melalui anak-anak. Menyadari hasil kerja yang terkadang hanya sekedarnya, yang dilakukan terkadang dengan berat hati, yang dijalani terkadang dengan rasa lelah, untuk mereka ternyata ini lebih dari hanya sekedar, untuk mereka ini menyenangkan.  Semoga semua ini benar-benar menyenangkan untuk kalian.

Semoga segala yang kita lakukan bermanfaat, bernilai pahala. Semoga dalam keterpisahan, kita bisa saling mendoakan kebaikan. Semoga suatu saat kita bisa bertemu lagi. Hingga suatu saat itu adalah surganya Allah.