Malam ini menu makan malam saya adalah bebek goreng, saya dan teman mampir di tenda bebek goreng favorite kami yang cukup ternama di Kota Bandung ini. Suasana hujan dan dingin membuat rasa lapar terasa agak berlebihan saat itu, membuat bebek yang kami makan menjadi santapan ternikmat yang kami makan...hehe berlebihan. Seperti yang sudah saya bilang barusan, bahwa tenda ini cukup ternama, sudah barang tentu pelanggannya pun banyak, sebuah meja bisa diisi oleh beberapa pelanggan, yang penting bisa duduk pikirnya. Jadi dengan space yang agak sempit dan berisiknya orang-orang saling bercakap kami melahap santapan. Mungkin ini pemandangan yang sangat umum dan sering terlihat.
Dan tak lupa pengamen mengisi panggungnya dan memainkan seluruh lagu di playlist yang sudah disiapkannya. Kali ini dua orang anak kecil perempuan, seorang memainkan gitar kecil yang lainnya kendang plastik. Ditemani seorang anak laki-laki yang kecil, mereka nyanyikan segala macam lagu dangdut dan lagu jalanan. Terlihat sekali mereka menikmati setiap pilihan lagu yang dinyanyikan, dengan lantang dan sedikit goyangan menghiasinya. Membuat kami tanpa sadar ikut menikmati bukan hanya nyanyian tapi seluruh pemandangannya. Disertai selingan cerita antar mereka di jeda sebuah lagu ke sebuah lagu berikutnya, mendiskusikan lagu apa yang selanjutnya akan dimainkan. Tertawa-tawa, serasa ditenda itu hanya ada mereka, serasa ini - yang mereka lakukan - bukanlah pekerjaan tapi inilah hiburan bagi mereka.
| Dua anak perempuan yang mengamen ditemani anak laki-laki memegang keranjang cireng |
Bukankah tak sedikit dari kita yang merasa lebih dari cukup dan jauh dari profesi pengamen sebagai mata pencaharian menganggap mereka yang benar-benar menjalani profesi tersebut selalu dalam kesusahan dan kesedihan. Mungkin benar, tapi sungguh pemandangan ini, melihat mereka tertawa dan bercerita disaat bekerja, memperlihatkan kebesaranNya. Bahwa dalam kesusahan pun Dia beri kebahagiaan, dalam kesusahannya mencari uang dengan mengamen hingga malam begini, Dia beri teman-teman yang bisa saling bercerita dan tertawa.
Menjadikan tak ada sebuah alasan pun yang melegalkan kita yang katanya tak lebih menderita dari mereka lalu bersedih, menangisi, terpuruk dan merasa menjadi korban dari sebuah kejahatan yang tak bisa dimaafkan, dan tak ada yang lebih membahagiakan selain si pelaku merasakan sakit yang kita rasakan. Dikecewakan orang tersayang. Dikerumuni masalah pekerjaan. Dihadiahi keluarga yang tidak harmonis. Apapun itu. Tak pernahkan kita ingat, tak pernahkah kita sadari, bahwa pada saat kita sedih merintih ada saja yang membuat kita tenang, senang bahkan tertawa, entah teman, orang tua, atau bahkan film komedi sekalipun. Lalu kita tak bersyukur sedikitpun atas nikmat itu?
Fabi ayyi ala-i rabbikuma tukadzdziban - Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Ar-Rahman :13)
No comments:
Post a Comment
Tanggap menanggapi