Monday, January 24, 2011

TAKAHASHI, 5 MENIT MENUJU SURGA

Kuringgu… kuringgu …. kuringgu!!! (kring …kring …kring..). Suara telepon rumah Muhammad berbunyi nyaring.
Muhammad: Mosi mosi? (Hallo?)
Takahashi: Mosi mosi, Muhammad san imasuka ? (Apakah ada Muhammad?)
Muhammad: Haik, watashi ha Muhammad des. (Iya saya).
Takahashi: Watashi ha isuramu kyo wo benkyou sitai desuga, osiete moraemasenka? (Saya ingin belajar agama Islam, dapatkah Anda mengajarkan kepada saya?)
Muhammad: Hai, mochiron. (ya, sudah tentu.)
Percakapan pendek ini kemudian berlanjut menjadi pertemuan rutin yang dijadwalkan oleh dua manusia ini untuk belajar dan mengajar agama Islam.
Setelah beberapa bulan bersyahadat, Takahashi kian akrab dengan keluarga Muhammad. Dia mulai menghindari makanan haram menurut hukum Islam.
Memilih dengan hati-hati dan baik, mana yang boleh di makan dan mana yang tidak boleh dimakan merupakan kelebihannya. Terkadang tidak sedikit, keluarga Muhammad pun mendapatkan informasi makanan-makanan yang halal dan haram dari Takahashi.
Pizza wo tabenaide kudasai. cheese ni ra-do wo mazeterukara.. (Jangan makan pizza walau pun itu adalah cheese, karena di dalamnya ada lard, lemak babi)”, nasihatnya di suatu hari. Takahashi mengetahui informasi semacam ini karena memang kebiasaan tidak membeli pizza, atau makanan produk warung di Jepang memang sudah terpelihara sebelumnya di keluarga Muhammad.
Toko kecil makanan halal milik keluarga Muhammad, menjadi tumpuan Takahashi dalam mendapatkan daging halal. Suatu ketika Takahashi ingin makan daging ayam kesukaannya, tapi dia ngeri kalau melihat daging ayam bulat (whole) mentah yang ada di plastik, dan tidak berani untuk memotongnya. Dengan senang hati, Muhammad memotong ayam itu untuk Takahashi. Dia potong bagian pahanya, sayapnya, dan badannya menjadi beberapa bagian.
Setiap pekan, Takahashi terkadang memesan sosis halal untuk lauk, bekal makan siang di kantor. Setiap pagi ibunya selalu menyediakan menu khusus (baca: halal) untuk pergi ke kantor tempat dia bekerja. Sebagai ukuran muallaf Jepang yang dibesarkan di negeri Sakura, luar biasa kehati-hatian Takahashi dalam memilih makanan yang halal dan baik. Terkadang Muhammad harus belajar dari Takahashi tentang keimanan yang dia terapkan dalam kehidupan sehari-harinya.
Pernah dalam suatu percakapan tentang suasana kerja, Takahashi menggambarkan bagaimana terkadang sulitnya menjauhi budaya minuman sake di lingkungan tempat kerjanya. Di Jepang, suasana keakraban hubungan antara atasan dan bawahan atau teman bekerja memang ditunjukkan dengan saling memberikan minuman sake ke gelas masing-masing.
Dalam kondisi hidup ber-Islam yang sulit, Takahashi ternyata terus melakukan dakwah kepada ibunya. Beberapa bulan kemudian akhirnya ibunya pun menjadi muallaf dengan nama Qonita, nama pilihan Takahashi sendiri buat ibu yang dia cintainya. Sampai saat ini, bagaimana dia mendapatkan nama itu, tidak ada seorang pun yang tahu, kecuali Takahashi.
Beberapa bulan berlalu, pertemuan kecil-kecilan berlangsung …terlontar dari mulutnya suatu kalimat.
Watashi ha kekkon simasu (Saya mau menikah)….”, ujarnya.
Dengan proses yang panjang, akhirnya dia mendapatkan jodohnya, wanita Jepang yang cantik, yang dia Islamkan sebelumnya. Setahun kemudian, suatu hari Takahashi datang ke rumah Muhammad dengan istrinya yang berkerudung, ikut serta juga buah hati mereka yang telah hadir di dunia ini.
Pada suatu hari, iseng-iseng Muhammad bertanya kepada Takahashi, “Apa yang menyebabkan Takahashi lebih tertarik dengan Islam?”
“Sebenarnya saya belajar juga Kristen, Budha dan Todoku (Agama moral) selain Islam,” Takahashi menjelaskan.
“Masih ingat dengan telepon kita dulu? Waktu pertama kali aku telepon ke Muhammad beberapa bulan dulu”, sambungnya.
“Iya ingat sekali”, jawab Muhammad.
“Kita waktu itu membuat perjanjian untuk bertemu di suatu tempat bukan?”, tanya Takahashi.
“Iya benar sekali”, sambung Muhammad lagi sambil mengingat-ingat kejadian saat itu.
“Saya sungguh ingin mantap dengan Islam, karena Muhammad datang 5 menit lebih dulu dari pada waktu yang kita janjikan, dan Muhammad datang terlebih dahulu dari pada aku. Muhammad pun menungguku waktu itu”, jawab Takahashi beruntun.
“Karena itu aku yakin, aku akan bersama dengan orang-orang  yang akan memberikan kebaikan”, sambungnya lagi.
Jawaban Takahashi membuat Muhammad tertegun, Astaghfirullah sudah berapa kali menit-menitku terbuang percuma, gumam Muhammad.
Begitu besar makna waktu 5 menit saat itu untuk sebuah hidayah dari Allah SWT. Subhanallah, 5 menit selalu kita lalui dengan hal yang sama, akan tetapi 5 menit waktu itu sungguh sangat berharga sekali bagi Takahashi.
Bagaimana dengan 5 menit yang terlewat barusan, milik Anda?

sumber

TO YOU BOTH

Sebenarnya bukan semata-mata rumah atau mobil yang ingin aku beli, kalau bukan untuk mamah dan papah. Hanya ingin mamah dan papah gak lagi berkeluh kesah tentang saudara yang menyindir anak-anak mamah papah yang sarjana tapi gak bisa ngasih apa-apa, tentang barang-barang yang dititip tapi dengan seenaknya dipakai dan dibuang kalau gak berfungsi buat dirinya, tentang bagaimana sempitnya tempat tidur mamah bapa sekarang, tentang bagaimana sulitnya menerima tamu bahkan mengadakan kumpul-kumpul, dan segala keterbatasan yang ada. Terutama mamah sama bapa bisa tenang hidup menikmati masa tua.
Tapi ada  satu kekhawatiran yang sampai sekarang gak tau bagaimana mengatasinya, segala amarah, kekesalan, ketidaksesuaian, perselisihan, dan semua yang membuat aku merasa sepertinya sudah tidak pantas lagi untuk kalian melakukan hal-hal tersebut. Maaf kalau selama ini aku selalu bersikap kasar menanggapi segala kejadian tidak menyenangkan ini, bukan karena aku benci mamah papah tapi aku hanya lelah selama hampir 26 tahun ini terus melihat dan mendengar pertengkaran yang kadang diselingi kata-kata kasar. Rasanya tidak ada tempat lagi yang terasa damai.
Jika rumah sudah kubeli, akankah papah dapat melakukan segala kegiatan yang ingin papah lakukan tanpa menyusahkan mamah? atau teriakan dan kata-kata kasar itu tidak akan terdengar lagi? Akankah kalian dapat hidup saling mengisi..saling memperhatikan..saling menyayangi? Jika mobil sudah kubeli, akankah kalian menikmati perjalanan tanpa meributkan arah jalan yang harus dilewati? tanpa merasa kesal atas keadaan jalan?
Sungguh tak ada lagi yang dapat aku pikirkan bahkan aku perbuat untuk membuat seolah-olah mamah papah memang menikah karena cinta, yang melahirkan dan membesarkan anak-anaknya karena cinta, bukan hanya sebuah fase dalam kehidupan yang harus dilalui. Jangan pernah ragu, curiga dan tidak percaya padaku, walaupun aku sering hanya memikirkan kesenanganku, namun diatas semua itu akan selalu ada kalian. Aku akan tetap menabung untuk membeli rumah dan mobil itu. Harapan sangat, kita bisa berkumpul lagi dalam sebuah rumah yang hangat penuh senyum dan canda tawa.Amin.



Tuesday, January 18, 2011

Pulau Tidung

Sebenernya trip ini dimulai tanggal 16 Oktober, tapi sampai sekarang masih keinget jelas gimana serunya trip yang satu ini (padahal baru sempet nulis aja...hehehe). Saya dan sembilan temen yang lain, yang kebetulan temen kuliah, ngerencanain liburan murmer alias murah meriah tapi mengesankan. Alhasil, setelah dapet rekomendasi dari temen yg sudah duluan berkunjung ke tempat ini, Pulau Tidung lah yg jadi tujuannya.

Pulau Tidung merupakan salah satu kelurahan di Kepulauan Seribu. Pulau ini terbagi dua yaitu, Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil.Pulau Tidung yang terdiri dari Tidung Besar dan Tidung Kecil yang dihubungkan oleh jembatan panjang ini terletak di Kepulauan Seribu Selatan bagian barat, dengan jarak tempuh kurang lebih 3 jam perjalanan dari Muara Angke dengan kapal penumpang.(sumber)

Karena 4 orang diantara kami berada di Jakarta, maka sisa 6 orang termasuk saya berangkat dr Bandung sekitar jam 04.00 pagi menggunakan mobil sewaan beserta supirnya, lalu menjemput mereka yang di Jakarta tepatnya