![]() |
| Bapa dan Mamah |
Matanya sayu menampakan kelelahan, rambutnya menipis seperti tak mampu lagi menggantung di kepalanya, kulitnya tak lagi kencang, raganya melemah seiring waktu dan perjalanan hidup. Namun pemikirannya mematang siap dipetik oleh orang-orang yang haus akan ilmu, kebijaksanaannya meluas, seluas kasih sayangnya.
Duduk, berjalan bahkan berlari berdampingan. Terkadang berpegangan tangan atau berpelukan, namun tak jarang berjauhan. Merasakan susah senang, tawa tangis, manis pahit, segala rasa dalam cerita kehidupan. Sebuah perjuangan mempertahankan, menjalani kehidupan yang baik beserta amanah-amanah didalamnya. Tiga orang putri.
Tiga buah amanah yang dijaganya, dikasihinya, dan dididiknya untuk menjadi pengemban amanahnya sendiri kelak. Seorang istri dan ibu dari anak-anaknya. Segala ucapan, segala perbuatan menjadi contoh bagi kami,anak-anakmu. Segala nasihat, segala ilmu yang terturunkan, segala curahan kasih dan sayang menjadi bekal jiwa kami, anak-anakmu.
Kini setelah lebih dari setengah abad umurmu, mungkin tak selalu cukup kasih sayang yang kami rasakan, mungkin tak selalu cukup nasihat yang kami butuhkan, mungkin kami tak selalu peduli, mungkin kami tak selalu sayang, mungkin kami tak selalu berada dekat, mungkin kami selalu nakal, tapi kami, anak-anakmu, penuh harap.
Sungguh segala keberkahan dan kesehatan kami harapkan untuk kalian, sungguh segala nikmat kami harapkan untuk kalian, sungguh segala kebaikan kami harapkan untuk kalian, sungguh segala pengharapan kami panjatkan yang semoga berujung pada surgaNya, bertemu dengan kalian, Allah dan RasulNya. Aamiin.

No comments:
Post a Comment
Tanggap menanggapi