Friday, December 11, 2015

GENERASI HARAPAN

Senang rasanya melihat anak-anak kecil di masjid saat majelis ilmu, yang terpikirkan adalah anak-anak inilah yang terbiasa mendengar tausyiah, terbiasa mendengar bacaan Al-Quran, dan terbiasa mendatangi masjid, Insyaallah kelak menjadi yang mencintai masjid, menjadikan Al-Quran sebagai sebenar-benarnya petunjuk bagi hidupnya, dan semoga menjadi salah satu yang menyampaikan ilmu sebagai ulama.

Harapan memiliki keturunan yang sholeh sholehah, yang akan menjadi penolong agama Allah, yang kelak menjadi sebuah peradaban yang membangkitkan Islam adalah harapan kita semua, yang semoga bukanlah hanya angan-angan tanpa usaha mewujudkannya.

Sejenak kita telisik beberapa tokoh besar dalam Islam, seperti apa kehidupan mereka saat kecil sehingga tumbuh menjadi sosok-sosok yang disyukuri keberadaannya? Lalu bagaimana pendidikan yang mereka terima sampai bisa seperti ini? Siapakah guru-gurunya? Apa saja yang mereka pelajari selama ini? Bagaimana sosok ibu dan ayahnya?

Bagaimana Muhammad Al-Fatih dididik oleh ayahnya yang seorang raja yang memiliki visi penaklukan Konstantinopel yang beliau terima juga dari ayahnya.


Yang pada saatnya sesuai hadist sebaik-baik prajurit adalah pasukan itu dan sebaik-baik komandan adalah komandan dari pasukan itu. Kurang lebih 30 ribu orang yang tergabung dalam perebutan Konstantinopel sebagai pasukan dari Muhammad Al-Fatih adalah sebaik-baik pasukan, pribadi-pribadi yang taat dan tak pernah meninggalkan shalat berjamaah semenjak mereka menginjak baligh. Bukan hanya komandannya saja yang sholeh tapi pasukannya pun sholeh, dan bukan hanya seorang pasukannya yang sholeh tapi seluruh dari 30 ribu-an orang pasukannya pun sholeh. Pastinya orang tua dari setiap pasukan itu mempunyai orang tua yang dekat dengan Allah dan baik didikannya.

Al-Bukhari seorang ulama hadist yang kitabnya masih kita gunakan hingga hari ini, bernama lengkap Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Al-Bukhari, dari namanya tersebut kita bisa lihat bahwa orang tua dan kakeknya merupakan orang yang mengerti sejarah. Berasal dari Kota Bukhara, Uzbekistan, bukan orang Arab. Al-Bukhari sudah yatim dari kecil, beliau dididik oleh ibu dan guru-gurunya. Dikisahkan Ayah Al-Bukhari pernah berkata pada kakak Al-Bukhari bahwa sepanjang hidupnya ia tak pernah memberi makan anak-anaknya yang haram bahkan yang syubhat. Bagaimana tekad dari orang tua yang menginginkan anaknya sholeh hingga menjaga nafkahnya dari yang syubhat apalagi haram.

Bahwa cita-cita ini saya yakin merupakan cita-cita seluruh orang tua yang beriman. Disamping dari kewajiban setiap dari kita untuk tidak meninggalkan generasi yang lemah, yang membuat para orang tua bekerja keras memberikan kebutuhan lahir, pendidikan dan akhlaknya, tapi anak juga berhak dipilihkan seorang ibu yang sholehah oleh ayahnya dan seorang ayah yang sholeh oleh ibunya.

Maka kewajiban kita juga lah menjadikan diri kita orang tua yang sholeh dan sholehah yang Insya Allah dengan semakin dekatnya kita dengan Allah maka Allah yang akan menjaga generasi-generasi kita. Maka menikah bukan hanya menjalani sebuah fase kehidupan tapi juga membangun peradaban. Untuk membangun peradaban yang menjadi kejayaan Islam. Aamiin Insya Allah.

Apalah arti dunia yang tak lebih berharga dari sebelah sayap seekor nyamuk jika kita hanya mengharapkan generasi yang bisa cari makan sendiri?

No comments:

Post a Comment

Tanggap menanggapi