Senang rasanya melihat anak-anak kecil di masjid saat majelis
ilmu, yang terpikirkan adalah anak-anak inilah yang terbiasa mendengar
tausyiah, terbiasa mendengar bacaan Al-Quran, dan terbiasa mendatangi masjid,
Insyaallah kelak menjadi yang mencintai masjid, menjadikan Al-Quran sebagai
sebenar-benarnya petunjuk bagi hidupnya, dan semoga menjadi salah satu yang
menyampaikan ilmu sebagai ulama.
Harapan memiliki keturunan yang sholeh sholehah, yang akan
menjadi penolong agama Allah, yang kelak menjadi sebuah peradaban yang
membangkitkan Islam adalah harapan kita semua, yang semoga bukanlah hanya
angan-angan tanpa usaha mewujudkannya.
Sejenak kita telisik beberapa tokoh besar dalam Islam,
seperti apa kehidupan mereka saat kecil sehingga tumbuh menjadi sosok-sosok
yang disyukuri keberadaannya? Lalu bagaimana pendidikan yang mereka terima
sampai bisa seperti ini? Siapakah guru-gurunya? Apa saja yang mereka pelajari
selama ini? Bagaimana sosok ibu dan ayahnya?
Bagaimana Muhammad Al-Fatih dididik oleh ayahnya yang seorang
raja yang memiliki visi penaklukan Konstantinopel yang beliau terima juga dari
ayahnya.
Yang pada saatnya sesuai hadist sebaik-baik prajurit adalah pasukan
itu dan sebaik-baik komandan adalah komandan dari pasukan itu. Kurang lebih 30
ribu orang yang tergabung dalam perebutan Konstantinopel sebagai pasukan dari
Muhammad Al-Fatih adalah sebaik-baik pasukan, pribadi-pribadi yang taat dan tak
pernah meninggalkan shalat berjamaah semenjak mereka menginjak baligh. Bukan
hanya komandannya saja yang sholeh tapi pasukannya pun sholeh, dan bukan hanya
seorang pasukannya yang sholeh tapi seluruh dari 30 ribu-an orang pasukannya pun
sholeh. Pastinya orang tua dari setiap pasukan itu mempunyai orang tua yang
dekat dengan Allah dan baik didikannya.
Al-Bukhari seorang ulama hadist yang kitabnya masih kita
gunakan hingga hari ini, bernama lengkap Muhammad bin Ismail bin Ibrahim
Al-Bukhari, dari namanya tersebut kita bisa lihat bahwa orang tua dan kakeknya
merupakan orang yang mengerti sejarah. Berasal dari Kota Bukhara, Uzbekistan,
bukan orang Arab. Al-Bukhari sudah yatim dari kecil, beliau dididik oleh ibu
dan guru-gurunya. Dikisahkan Ayah Al-Bukhari pernah berkata pada kakak
Al-Bukhari bahwa sepanjang hidupnya ia tak pernah memberi makan anak-anaknya
yang haram bahkan yang syubhat. Bagaimana tekad dari orang tua yang
menginginkan anaknya sholeh hingga menjaga nafkahnya dari yang syubhat apalagi
haram.
Bahwa cita-cita ini saya yakin merupakan cita-cita seluruh
orang tua yang beriman. Disamping dari kewajiban setiap dari kita untuk tidak
meninggalkan generasi yang lemah, yang membuat para orang tua bekerja keras
memberikan kebutuhan lahir, pendidikan dan akhlaknya, tapi anak juga berhak
dipilihkan seorang ibu yang sholehah oleh ayahnya dan seorang ayah yang sholeh
oleh ibunya.
Apalah arti dunia yang tak lebih berharga dari sebelah sayap seekor nyamuk jika kita hanya mengharapkan generasi yang bisa cari makan sendiri?
No comments:
Post a Comment
Tanggap menanggapi