Bismillah...
Yang perlu kita lakukan hanya membuka mata, telinga dan hati, karena sebenarnya jawaban dari setiap keresahan dan kegelisahan itu ada disekitar kita, hanya saja maukah kita menangkapnya? Maukah kita menerimanya? Ataukah hati kita terlalu keras untuk menerima dan bangkit?
Petunjuk : Bacalah tanpa memperhatikan kesinambungan atau keterkaitannya. Ambillah mana yang bermanfaat bagimu. Just enjoy it :)
Cinta bukan tentang "bebas untuk" tetapi "bebas dari".
Kalky, jika cinta adalah kebebasan, bukan berarti kau bebas untuk melakukan apapun pada kekasihmu, tetapi bebas dari ancaman dan ketakutan untuk memilih siapapun yang ingin kau cintai. Bukan bebas untuk menjadi (si)apapun, tetapi bebas dari tekanan dan rasa cemas untuk menjadi (si)apapun. Bukan bebas untuk menindas dan melemahkan, tetapi bebas dari penindasan dan kelemahan. Bukan bebas untuk melakukan hal-hal di luar batas, tetapi bebas dari kegagalan untuk bertanggung jawab pada batas-batas antara dirimu dan kekasihmu. Ya, bukan bebas untuk melampiaskan nafsu dan memenuhi kepentinganmu sendiri, tetapi bebas dari rasa bersalah karena kegagalanmu membanggakan seseorang yang semestinya kau bahagiakan.
Adam, ini bulan kedelapan...minggu ke 36...hari ke-252...sejak kedekatan kita: Ya, aku benar-benar menghitungnya. Aku bahagia ketika kau memberiku kado istimewa di hari ulang tahunku. Aku suka saat kau perhatian padaku. Aku suka saat kau memberikan cokelat atau bunga.
....Tetapi, Adam, perempuan lebih suka diberi kepastian--bukan harapan yang setiap hari menerbitkan keraguan.
Nikmatilah semuanya..... Berbahagialah seperti anak-anak. Waspadalah seperti pertama kali belajar berjalan. Dengarkanlah nyanyian angin. Jadilah air hujan yang membawa kehidupan baru bagi tanah-tanah yang kering. Jadilah matahari yang berani terbit dan siap untuk tenggelam. Jadilah seseorang yang membuat dunia jadi berbeda. Jadilah dirimu sendiri: Kita bukan apa-apa, dan bukan siapa-siapa, sampai kita mewakili pikiran dan perasaan kita sendiri.
Kini, aku sedang tak membayangkannya, aku meyakininya dengan sungguh-sungguh: Tuhan lebih besar daripada laut, lebih luas dari semesta, lebih agung dari segalanya. Maka, tak usah ragu untuk kembali, tak usah merasa bukan siapa-siapa atau merasa terlalu berdosa, teruslah mengalir: Tuhan tak akan menolakmu dan akan selalu menerimamu!
Ah, mengapa kita selalu membuat diri kita merasa bersalah? Mengapa kita cenderung memilih menjadi pemurung? Mengapa kita tak pernah mengucapkan terima kasih pada diri sendiri---atas hal-hal baik, juga hal-hal buruk, yang sudah kita lakukan sejauh ini? Terima kasih telah selalu bertahan, dan telah selalu memutuskan untuk kembali berjalan... Yakinlah, kita telah dan akan selalu baik-baik saja,
Bagiku, ketabahan selalu berkesan murung---atau kadang sok kuat. Misalnya, mengapa rintik rindu harus dirahasiakan dari pohon yang berbunga? Bukankah terlalu banyak rahasia perasaan yang tak menemukan jawabannya---menyakiti dirinya sendiri dan berpura-pura kuat dalam ketabahan yang dibuat-buat? Haruskah selalu berkata pada diri sendiri "kamu harus kuat" kalau kenyataannya kita tidak kuat?......Maka biarkan 'kita yang buruk sekaligus peragu di masa lalu', tinggalkan, tetapi tak perlu dihapus: Sebab sesekali kita perlu menengoknya untuk merayakan kita yang telah berubah di masa kini dan akan menjadi lebih baik di masa depan.
Demi hujan buLan Juni: Berhentilah menjadi seseorang yang menangis di bawah hujan--sambil berharap agar berbagai kesedihan tersamarkan.
Basuhlah kemurungan itu: Move on!
*Lagi-lagi mengutip dari buku Perjalanan Rasa - Fadh Djibran*
No comments:
Post a Comment
Tanggap menanggapi