Wednesday, May 22, 2013

PERJALANAN RASA - 1

Bismillah...
Petunjuk : Bacalah tanpa memperhatikan kesinambungan atau keterkaitannya. Ambillah mana yang bermanfaat bagimu. Just enjoy it :)

Tak ada yang lebih menyakitkan daripada membuat diri kita sendiri kehilangan harapan, bukan?

Ada saatnya kita harus melepaskan harapan...kadang-kadang harapan adalah pengalih perhatian.

Demikian tololnya kita yang ingin tenggelam dalam kesedihan-kesedihan, kita yang percaya diri berlebihan dengan merasa sanggup untuk sampai pada titik terendah dari sebuah penderitaan--benarkah kita bisa melampaui kesedihan manapun, hingga kosakata bernama derita-luka-lara-nestapa-bahaya tak lagi memberikan akibat apa-apa pada kehidupan kita? Aku menyangsikannya. Sebab Tuhan tak pernah berlebihan, cobaan berat hanya diberikan kepada mereka yang kuat.
Percayalah, kesedihan adalah hadiah--agar pada saatnya kita dihibur dengan cara paling membahagiakan.

Apa yang telah terjadi barangkali memang harus terjadi dan tak pernah ada manusia yang sanggup lolos dari hisapan lubang hitam kesalahan.
Teruslah berjalan: Sebab satu-satunya cara untuk berusaha menjadi manusia yang lebih baik adalah dengan tidak berhenti mencobanya.

Hidup adalah permainan, demikian kita sering diingatkan. Tetapi kita selalu salah sangka: Kita pikir, tentang 'hidup adalah permainan', artinya kita bisa tidak terlalu serius menjalaninya. Padahal, tak ada satu pun permainan yang bisa dimenangkan dengan main-main, kan? Bahkan permainan paling mudah sekalipun, selalu menuntut keseriusan jika kita ingin memenangkannya.

Kau duduk beringsut di sampingku. Malam terus merangkak, jarum jam terus bergerak. Aku memegang tanganmu. "Jangan takut", kataku. Kau mengangguk: Dan aku menemukan keberanianku pada ketakutanmu---pada rasa percayamu bahwa aku akan selalu ada di sampingmu.
Kita selalu menemukan keberanian di atas ketakutan dan kegelisahan orang-orang yang kita sayangi, Adikku. Kita akan menemukan keberanian dari rasa percaya orang-orang yang kita sayangi bahwa kita akan selalu setia melindungi mereka.
"Kakak nggak takut?"
"Takut. Tapi kita bisa berdoa."

Ya, ambisi ibarat doping yang dapat mencegah kita merasa lelah, untuk terus-menerus bekerja, mendaki-dan-mendaki, tetapi membuat kita kehilangan kepekaan, kesadaran dan perhatian. Dengan ambisi, kita mungkin akan sampai ke tempat yang tinggi, atau lebih tinggi. Tetapi "puncak" bukan soal "ketinggian". Ia adalah sebuah titik di mana kita bisa berdiri dengan perasaan tenang, bebas, dan bahagia; Titik yang membuat kita bisa melihat segala hal dari dimensi yang lebih tinggi secara lebih luas, lebih dewasa dan bijaksana.


*Kutipan dari buku Perjalanan Rasa - Fadh Djibran*

No comments:

Post a Comment

Tanggap menanggapi