Saturday, October 6, 2012

DARI YANG BERPUISI (2)

 



Seorang diri, secangkir kopi, setumpuk ilusi
....sebuah puisi oleh Sitok Srengenge






Sejauh kau pergi, di mana pun kau kini, kita berada di bawah lengkung langit yang sama. Riap rinduku mengenangi seluruh samudera.
Tidakkah kau tahu, dalam buku-buku batinku terguris namamu? Huruf-huruf duka yang merembaka jadi cerita.
Kadang, ketika halaman putihku penuh olehmu, aku ingin meniru pohon yang gugur daun, mendamba hujan demi meluruhkan kenangan.
Sampai jiwaku kuyup, kelopakku kuncup. Sedang kau menjelma gema, menggelimang kesepianku yang menggeliat gamang.
Kata-katamu, kau tahu, kadang bunga biru rumpun perdu; sesekali belati yang membelai belikat hati. Membuatku merekah, pasrah.
Dan bungaku luruh saat belatimu menyentuh. Layu. Luka. Dihatiku kau terpahat, mungkin tak kekal, tapi biarlah kuingat tanpa sesal.
Kelak jika kau kembali, tiap kata telah memilih maknanya sendiri. Mungkin tak lagi kau kenali.
Kau bukan penyair culas, kekasih. Cuma penyihir yang melintas ketika aku sedang ringkih.
Atau, kau pengembara yang gampang terkesima. Mengurai lintang bibir bagai jejak sungai di padang pasir. Hanyut aku dalam arusmu.
Lalu bersama kita menguap sebagai fatamorgana, mendekap harap sungguhpun fana. Atau terurai jadi kerikil, meratapi yang mustahil.

Sumber Gambar


No comments:

Post a Comment

Tanggap menanggapi