Bismillah,
Saat ini kita bisa saja tersenyum bahkan menertawai kejadian-kejadian masa lalu kita, dari kejadian yang memang sangat konyol hingga kejadian yang sangat menyiksa atau membuat kita sedih pada saat itu, padahal saat itu kita bisa saja hanya bisa cemberut dan menangisinya terus. Senyuman dan tertawaan itu mungkin sudah menempuh jalan yang sangat berliku, dibutuhkan tenaga yang banyak untuk sekuat tenaga tidak mengingatnya, menguras banyak perasaan melawan atau menerimanya, dan biaya untuk pergi bersenang-senang sendiri atau dengan teman hanya sekedar melupakannya sesaat, serta berjuta-juta detik untuk melaui proses apapun beratasnamakan meng"ikhlas"kan.
Mungkin saja, saya bilang mungkin karena memang mungkin hanya beberapa orang yang menyadari, saat mengalami kejadian buruk sudah kita ketahui bahwa akan ada titik dimana kita akan tersenyum atau bahkan menertawai mengingatnya, bahwa ini sebuah adegan dalam kehidupan yang pada akhirnya mau tidak mau harus diterima, akan ada sebuah proses untuk menjadi kita yang seperti sebelum mengalami kejadian buruk itu atau bisa jadi menjadi kita yang lebih baik.
Muncullah pertanyaan-pertanyaan "Mengapa ini terjadi?", "Mengapa mesti sekarang ini terjadi?", Apa maksud dari ini semua?", "Salahkan tindakan saya selama ini?", "Apa sajakah keterlibatan saya atas terjadinya kejadian ini?" dan banyak lagi pertanyaan yang rasanya tak ada habisnya, yang kalau-kalau disadari pertanyaan yang muncul ini juga merupakan bagian dari proses itu, jika kita bisa memberikan jawaban atas semua pertanyaan itu bahwa sebenarnya kita mendapatkan pelajaran atau hikmah dari kejadian tersebut, hingga kita sudah merasa tidak perlu mempertanyakan lagi, bukan tak ada lagi pertanyaan yang butuh jawaban namun kita memang sudah mendapat pelajarannya. Maka pertanyaan-pertanyaan lainnya sudah tak lagi penting.
Semakin kita menginginkan hikmah itu kita dapatkan haruslah cepat juga proses yang harus dilewati, maka semakin cepat juga pertanyaan yang harus dijawab, tak ada waktu menyalahkan orang lain atau menyalahkan kondisi dan keadaan. Hanya fokus pada diri. Sebuah pembelajaran kehidupan, memperbaiki diri, memaafkan diri, memantaskan diri. Dan mungkin ada satu pertanyaan yang perlu kita renungi "Untuk apa kita melakukan ini semua?" jika jawabannya bukan "Untuk mendapatkan ridha Allah" maka rasanya kita perbaiki diri kira,niat kita.
Katanya, cobaan atau ujian apapun yang membuat kita mendekat kepada Allah maka itu karunia.
Katanya, masa lalumu yang buruk bukan penentu masa depanmu.
Katanya, hanya orang-orang yang berpikirlah yang dapat mengambil pelajaran.
"Kau tak akan pernah bisa berdamai dengan masa lalumu jika kau tidak memulainya dengan
memaafkan semua kejadian yang telah terjadi. Kau justru harus memulainya dengan tidak
menyalahkan dirimu sendiri" -Tere Liye, Kisah Sang Penandai-
menyalahkan dirimu sendiri" -Tere Liye, Kisah Sang Penandai-
No comments:
Post a Comment
Tanggap menanggapi