Saturday, September 8, 2012

DARI YANG BERPUISI

Sitok Srengenge

Puisi ini saya kutip dari twitter Sitok Srengenge, saya juga tidak menemukan judul puisi ini. Tapi, apalah sebuah judul, syairnyalah yang bisa menghanyutkan rasa. Selamat menikmati.


Sendiri di Stasiun Tugu, entah siapa yang ia tunggu.
Orang-orang datang dan lalu, ia cuma termangu.
Sepasang orang muda berpelukan sebelum berpisah, seolah memeluk harapan; ia mendesis seperti mengecap dusta yang manis.
Ia menatap rel menjauh dan lenyap di dalam gelap, bertanya: di mana ujung perjalanan, kapan akhir penantian?

Lengking peluit, roda-roda berderit, tepat ketika jauh di hulu hatinya terasa amat sakit.
Kapankah benih kenangan pertama kali tumbuh, kenapa ingatan begitu rapuh? Cinta mungkin sempurna, tapi asmara sering merana.
Andai akulah gerbong kosong itu, akan kubawa kau dalam seluruh perjalananku.

Di antara orang berlalang-lalu, ada masinis dan para portir. Di antara kenanganku denganmu, ada yang berpangkal manis berujung getir.
Cahaya biru berkelebat dalam gelap, kunang-kunang di gerumbul malam. Serupa harapanku padamu yang lindap, tinggal kenang timbul-tenggelam.
Dua garis rel itu, seperti kau dan aku, hanya bersama tapi tak bertemu.
Seperti balok-balok bantalan tangan kita bertautan, terlalu berat menahan beban.
Mungkin kita hanya penumpang, duduk berdampingan tapi tak berbincang, dalam gerbong yang beringsut ke perhentian berikut.

Di persimpangan kau akan bertemu garis lain, begitu pun aku. Kau akan jadi kemarin, yang kukenang sebagai pengantar esokku.
Jadilah masinis bagi kereta waktumu, menembus gulita. Tak perlu ada tangis jika kita bersua suatu waktu, sebab segalanya sudah berbeda.
Mungkin kau akan tertidur dan bermimpi tentang bukan aku, sedang aku terus melantur mencari mata air rindu.
Tidak, aku tahu, tak ada kereta menjelang mata air. Mungkin kau hanya petualang yang (semoga tak) menganggapku tempat parkir.



SUMBER PUISI 

No comments:

Post a Comment

Tanggap menanggapi